Expo Inovasi Desa 2025, Desa Bajo Indah Tampilkan Kreasi UMKM Hasil Laut

oleh
oleh
Kepala Desa Bajo Indah, Subohan saat menampilkan hasil kreasi UMKM.

UNAAHA – Ajang Ekspo Inovasi Desa 2025, Desa Bajo Indah, Kecamatan Soropia menampilkan berbagai inovasi unggulan, salah satunya hasil kerja sama dengan Poltekkes Kemenkes Kendari Jurusan Gizi dalam pengolahan bahan pangan lokal berbasis bulu babi. Selain itu Stand memanfaatkan bahan material dari alam yakni limbah kulit pohon sagu salah satu identitas local Sulawesi Tenggara.

Desa Bajo Indah juga menampilkan hasil lahan lainnya yang dikelolah UMKM. Yang menarik adalah Satwa dari laut yakni Penyu yang menyita perhatian pengunjung dari berbagai kalangan terutama anak-anak.

Kepala Desa Bajo Indah, Subohan, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menampilkan hasil pembangunan infrastruktur dan pengembangan ekonomi masyarakat sejak awal kepemimpinannya pada tahun 2023 hingga 2025.

“Kami menampilkan berbagai capaian desa, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga inovasi sosial dan UMKM. Salah satunya, kami bangga bisa memperkenalkan produk olahan berbahan dasar bulu babi yang bernilai gizi tinggi,” ujar Subohan di lokasi kegiatan. Jumat (7/11/2025) malam.

Dalam ekspo Inovasi desa 2025 tersebut, Desa Bajo Indah menampilkan empat produk unggulan UMKM, yaitu:

1. Ikan kering hasil olahan nelayan lokal
2. Penampungan dan distribusi hasil laut seperti lobster, gurita, dan ikan segar.
3. Olahan pangan inovatif berbahan bulu babi, seperti naget, pastel mini, stik gonad, dan biskuit
4. Produk turunan makanan laut berbasis gizi keluarga sehat.

Menurut hasil penelitian dari Poltekkes Kendari, bulu babi memiliki kandungan gizi yang tinggi, terutama pada bagian gonad (telur bulu babi). Dua jenis bulu babi, yakni Tayong dan Tetehe (jenis Tripneustes gratilla), diketahui mengandung protein berkualitas tinggi (12,30–20,40%), kalsium dan fosfor untuk kesehatan tulang dan gigi, serta zat besi dan zinc yang berperan dalam mencegah anemia dan meningkatkan sistem imun tubuh.

Subohan menuturkan, dulunya bulu babi dianggap sebagai hama oleh masyarakat pesisir. Namun, hasil riset Poltekkes Kendari membuktikan sebaliknya bahan ini justru dapat diolah menjadi pangan bergizi tinggi yang bermanfaat untuk mencegah stunting.

“Alhamdulillah, setelah dilakukan penelitian dan pengolahan, kini olahan bulu babi terbukti membantu menekan angka stunting di Bajo Indah. Bahkan, pada tahun 2025, kasus stunting di desa kami sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Kepala Desa juga berharap agar kegiatan seperti Ekspo Inovasi Desa dapat terus dilaksanakan secara berkala setiap tiga tahun. Hal ini dianggap penting agar semangat inovasi di tingkat desa tidak berhenti di tengah jalan.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Daerah dan Bupati Konawe yang telah memberi ruang bagi desa untuk menampilkan inovasi. Ke depan, kami berharap Dekranasda juga bisa turut membantu memberikan pelatihan dan pendampingan agar produk-produk lokal Bajo Indah bisa bersaing secara profesional,” tutup Subohan. (**)

Laporan : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.